Kongjian Yu dan Warisan Abadi "Sponge City": Berdamai dengan Air, Bukan Melawannya

Admin 13 Okt 25 14:02 Wib

Bagikan atau simpan

thumbnail

foto by stirworld

Depok - Dunia kehilangan salah satu pemikir visioner di bidang ekologi perkotaan. Mendiang Kongjian Yu, arsitek lanskap dan pencipta konsep revolusioner 'Sponge City' atau Kota Sponge, meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat di Brasil. Namun, warisan pemikirannya tentang bagaimana seharusnya sebuah kota berinteraksi dengan air akan terus hidup dan menginspirasi.

Berlawanan dengan pendekatan konvensional, filosofi Yu sederhana namun powerful: "Kita harus bersahabat dengan air." Bagi Yu, kata "haram" melekat pada penggunaan beton dan tanggul sebagai satu-satunya solusi penahan banjir. Alih-alih melawan alam, ia memilih untuk merangkulnya.

Apa Itu Sponge City? Melampaui Infrastruktur Abu-Abu

Konsep Sponge City adalah sebuah visi untuk menciptakan kota yang berfungsi layaknya spons. Daripada mengalirkan air hujan secepatnya ke sungai dan laut melalui saluran beton, kota dirancang untuk menyerap, menyimpan, dan menyaring air hujan secara alami.

"Solusi konvensional adalah kita membangun infrastruktur beton. Tapi di sini, kita berteman dengan air," ujar Yu dalam sebuah wawancara.

Yu menyebut pendekatan tradisional dengan beton dan tanggul sebagai "infrastruktur abu-abu" yang ia anggap "tak bernyawa, jelek, dan berbahaya." Ia memperingatkan bahwa ketika banjir besar datang, infrastruktur kaku ini akan gagal dan justru menyebabkan luapan air yang lebih destruktif.

"Di sini kita menghilangkan semua beton. Kita buat teras dan menanami rumput asli, jadi semua area ini bisa dibanjiri. Jadi kita memberikan ruang untuk air. Saat kita beri ruang untuk air, air akan bersahabat," jelasnya.

Studi Kasus: Dari Beton yang Gersang ke Lahan Basah yang Hidup

Salah satu proyek percontohan yang sering ia tunjukkan terletak di sebuah kampus di Beijing. Kawasan ini sebelumnya selalu tergenang air setinggi 1-2 meter setiap musim hujan. Solusi lama akan menyarankan pengerukan dan pembetonan.

Namun, Yu dan timnya melakukan sebaliknya. Mereka:

  1. Menghilangkan lapisan beton yang menutupi tanah.
  2. Menciptakan teras-teras dan cekungan yang ditanami dengan vegetasi asli.
  3. Mengubah area tersebut menjadi sebuah lahan basah urban yang dapat menampung air saat hujan lebat.

Dengan memberikan ruang bagi air, kawasan tersebut tidak hanya terbebas dari genangan parah, tetapi juga bertransformasi menjadi ruang hijau yang indah dan meningkatkan biodiversitas. Ini adalah inti dari solusi pengendalian air berbasis darat yang ia gaungkan.

Lebih Dari Sekadar Teknik: Sebuah Transformasi Sosial

Bagi Kongjian Yu, Sponge City bukan hanya tentang rekayasa teknikal. Ini adalah pergeseran paradigma yang mendalam.

"Ini bukan soal engineering, bukan kebijakan. tapi transformasi sosial. Kuncinya adalah air. Tanpa air, kita tidak punya bumi ini," imbuhnya.

Konsep ini mengajak kita untuk memandang air bukan sebagai musuh yang harus dikalahkan, tetapi sebagai sumber daya yang berharga dan bagian integral dari ekosistem kota. Ini mendorong perencanaan kota yang lebih holistik, di mana ruang hijau, taman, dan danau buatan tidak hanya sebagai estetika, tetapi sebagai infrastruktur publik yang fungsional.

Warisan yang Hidup: 1.000 Proyek di 200 Kota

Dedikasi Yu tidak hanya berhenti pada teori. Ia telah meluncurkan lebih dari 1.000 proyek di 200 kota di seluruh dunia. Setiap proyeknya berfokus pada membangun hubungan yang baik dengan air, membuktikan bahwa konsepnya dapat diadaptasi dan diterapkan dalam berbagai skala dan konteks.

Tragisnya, sang visioner ini meninggal ketika sedang dalam misi untuk mempromosikan visinya—membuat film dokumenter tentang Sponge City. Kecelakaan pesawat di Brasil itu memutus nyawa, tetapi tidak memutuskan pengaruh ide-idenya.

Kesimpulan: Masa Depan Kota yang Tangguh dan Lentur

Warisan Kongjian Yu adalah pengingat yang kuat bahwa dalam pertarungan melawan alam, manusia yang akan kalah. Masa depan tata kota yang berkelanjutan terletak pada kemampuan kita untuk berkolaborasi dengan alam, bukan mendominasinya.

Konsep Sponge City menawarkan jalan keluar yang elegan dari masalah banjir perkotaan. Ia menawarkan kota yang tidak kaku dan rentan, tetapi lentur, tangguh, dan hidup—seperti spons yang mampu menyerap tantangan dan mengelolanya dengan cara yang harmonis. Pekerjaan Yu telah membuka jalan, dan kini tugas kitalah untuk meneruskan estafet transformasi sosial ini demi kota-kota yang lebih layak huni di masa depan.